Kewajiban Pemimpin Dalam Sudut Pandang Islam [Part 2] 1


Baca Sebelumnya

Jaminan bagi pemimpin yang adil

jaminan perilaku adilArtinya : “Abdullah bin ‘amru bin al ‘ash r.a berkata: rasulullah saw bersabda: sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak disisi allah ditempatkan diatas mimbar dari cahaya, ialah mereka yang adil dalam hokum terhadap keluarga dan apa saja yang diserahkan (dikuasakan) kepada mereka.” (HR : muslim)

Bila hadis sebelumnya berbicara tentang “garansi” allah atas pemimpin yang berbuat adil, maka hadis ini lebih mengulas tentang “imbalan” bagi seorang pemimpin yang adil. Dalam hadis ini disebutkan bahwa imbalan bagi pemimpin yang adil adalah kelak di sisi allah akan ditempatkan di atas mimbar dari cahaya. Secara harfiyah, mimbar berarti sebuah tempat khusus untuk orang-orang yang hendak berdakwah atau berceramah di hadapan umum. Karenanya, mimbar jum’at biasanya mengacu pada sebuah tempat khusus yang disediakan masjid untuk kepentingan khotib.

Sementara cahaya adalah sebuah sinar yang  menerangi sebuah kehidupan. Kata cahaya biasanya mengacu pada matahari sebagai penerang bumi, lampu sebagai penerang dari kegelapan, dsb. Oleh sebab itu, kata mimbar dari cahaya di dalam hadis di atas tentu tidak serta merta dimaknai secara harfiyah seperti mimbar yang dipenuhi hiasan lampu-lampu yang bersinar terang, melainkan mimbar cahaya adalah sebuah metafor yang menggambarkan sebuah posisi yang sangat terhormat di mata allah. Posisi itu mencrminkan sebuah ketinggian status setinggi cahaya matahari.

Sorga bagi pemimpin yang adil

sorga bagi pemimpin yang adil

Artinya : “Ijadl bin himar r.a berkata: saya telah mendengar rasulullah saw bersabda: orang-orang ahli surga ada tiga macam: raja yang adil, mendapat taufiq hidayat ( dari allah). Dan orang belas kasih lunak hati pada sanak kerabat dan orang muslim. Dan orang miskin berkeluarga yang tetap menjaga kesopanan dan kehormatan diri.” (HR : muslim).

Bila yang pertama tadi allah akan menjamin pemimpin yang berbuat adil dengan jaminan naungan rahmat dari allah, dan hadis selanjutnya menjamin dengan jaminan mimbar yang terbuat dari cahaya, maka jaminan yang ke tiga ini adalah jaminan sorga. Ketiga jaminan di atas tentunya bukan sekedar jaminan biasa, melainkan semua jaminan itu menunjukkan betapa islam sangat menekankan pentingnya sikap keadilan bagi seorang peimimpin. Rasul s.a.w tidak mungkin memberikan jaminan begitu tinggi kepada seseorang kecuali seseorang itu benar-benar dituntut untuk melakukan hal yang sangat ditekankan dalam islam. Dan keadilan adalah perkara penting yang sangat ditekankan dalam islam. Oleh karena itu, siapa yang menjunjung tinggi keadilan, niscaya orang tersebut akan mendapat jaminan yang tinggi dari islam (allah), baik di dunia, maupun di akhirat.

Sekian artikel tentang tinjauan tentang tanggung jawab seorang pemimpin, semoga artikel ini dapt bermanfaat bagi saya khususnya dan umumnya bagi kita semua, mohon maaf apabila ada kekurangan atu kesalahan, dan sesungguhnya kebenaran itu datangnya dari Alloh dan kealfaan datangnya dari diri saya sendiri mohon maaf dan trimakasih.

Kewajiban Kepala Negara Perspektif Politik Islam
Adapun suatu kewajiban-kewajiban seorang pemimpin dapat kita lihat dalam berbagai macam profektif, yang mana dalam Islam, Islam sebagai agama amal adalah sangat wajar apabila meletakkan focus of interest-nya pada kewajiban. Hak itu sendiri datang apabila kewajiban telah dilaksanakan secara baik. Bahwa kebahagiaan hidup di akhirat akan di peroleh apabila kebajiban-kewajiban sebagai manifestasi dari ketaqwaan telah dilaksanakan dengan baik waktu hidup di dunia.

Demikian pula halnya dengan kewajiban-kewajiban imam. Ternyata di tidak ada kesepakatan di antara ulama terutama dalam perinciannya sebagai contoh akan dikemukakan, kewajiban imam menurut al-Mawardi adalah:

  1. Memelihara agama, dasar-dasarnya yang telah di tetapkan dan apa yang telah di sepakati oleh ulama salaf.
  2. Mentafidzkan hukum-hukum di antara orang-orang yang bersengketa, dan menyelesaikan perselisihan, sehingga keadilan terlaksana secara umum.
  3. Memelihara dan menjaga keamanan agar manusia dapat dengan tentram dan tenang berusaha mencari kehidupan, serta dapat berpergian dengan aman, tanpa ada gangguan terhadap jiwanya atau hartanya.
  4. Menegakkan hukum-hukum Allah, agar orang tidak berani melanggar hukum dan memelihara hak-hak hamba dari kebinasaan dan kerusakan.
  5. Menjaga wilayah batasan dengan kekuatan yang cukup, agar musuh tidak berani menyerang dan menumpahkan darah muslim atau non muslim yang mengadakan perjanjian damai dengan muslim (mu’ahid).
  6. Memerangi orang yang menentang islam setelah melakukan dakwah dengan baik tapi mereka tidak mau masuk islam dan tidak pula menjadi kafir dzimmi.
  7. Memungut Fay dan shadaqah-shadaqah sesuai dengan ke tentuan syara’ atas dasar nash atau ijtihad tanpa ragu-ragu.
  8. Manatapkan kadar-kadar tertentu pemberian untuk orang-orang yang berhak menerimanya dari Baitul Mal dengan wajar serta membayarkanya pada waktunya.
  9. Menggunakan orang-orang yang dapat di percaya dan jujur di dalam menyelesaikan tugas-tugas serta menyerahkan pengurusan kekayaan Negara kepada mereka. Agar pekerjaan dapat dilaksanakan oleh orang-orang yang ahli, dan harta Negara di urus oleh orang yang jujur.
  10. Melaksanakan tugas-tugasnya yang langsung di dalam membina umat dan menjaga agama.

Yusuf Musa menambahkan kewajiban lain, yaitu: Menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan, karena kemajuan umat sangat tergantung kepada ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu keduniawian. Apabila kita kaitkan kewajiban ini dengan maqasyid syari’ah, maka kewajiban imam tidak lepas dari hal-hal:

  1. Yang dharuri yang meliputi hifdh al-din, hifdh al-nafs, hifdh al-nasl/iridl, dan hifdh al-mal serta hifdh al-ummah, dalam arti yang seluas-luasnya, seperti di dalam hifdh al-mal termasuk di dalam mengusahakan kecukupan sandang, pangan dan papan, di samping menjaga agar jangan  terjadi gangguan terhadap kekayaan.
  2. Hal-hal yang bersifat haji, yang mengarah kepada kemudahan-kemudahan di dalam melaksanakan tugas.
  3. Hal-hal yang taksini, yang mengarah kepada terpeliharanya rasa keindahan dan seni dalam batas- batas ajaran Islam.

Adapun poin penting penting di ketahui oleh Ulil Amri harus menjaga  dan melindungi hak-hak rakyat dan  mewujudkan Hak Asasi Manusia, seperti hak milik, hak hidup, hak mengemukakan pendapat dengan baik dan benar, hak mendapatkan penghasilan yang layak melalui kash al-halal, hak beragama, dan lain-lainnya.

Di dunia islam sekarang ini, kriteria kepala Negara (presiden) juga sangat beragam. Di Pakistan, misalnya, seseorang dapat dipilih menjadi presiden dengan syarat: muslim dan berusia sekurang-kurangnya 45 tahun (pasal 41 ayat 2 konsitusi Pakistan). Di Iran, kualifikasi seorang presiden mencakup : Iranian origin, Iranian nationality, a good pastrecord, trustworthy and piety, and conviced belief in the fundamental principles of Islamic Republic of Iran, and the official madzab of the country (Article 115, the constitution of the Islamic Rebublic of Iran).

Di Mauritinia, presiden pun harus seorang muslim (pasal 23 Konsitusi Republik Mauritinia 1991). Sandi Arabia, Pakistan, Brunei Darussalam, libya, Irak (konsitusi 1990), Mauritinia, dan Malaysia menyebut Islam sebagai agama resmi Negara (Islam is the religion of the state), sedangkan Indonesia mengatakan dalam pasal 29 UUD 1945 (yang tidak diamandemen). Pada ayat 1, pasal tersebut “Negara berdasar atas Ketuhanan yang Maha Esa”,dan pada pasal 2,”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tap penduduk untuk memeluk agamanya dan kepercayaan itu”.

download file Kewajiban Pemimpin Dalam Sudut Pandang Islam.pdf

DAFTAR PUSTAKA

Resna.(2013).”Artikel Tentang Tinjauan Tanggung Jawab Pemimpin”[Online]. Tersedia : http://resnajaliliah.blogspot.com/2013/04/artikel-tentang-tinjauan-tanggung-jawab.html [2 Maret 2015].

Muksalmina.(2012).“Hak-hak dan Kewajiban Kepala Negara Perspektif Politik Islam”. [Online]. Tersedia : http://politik.kompasiana.com/2012/12/30/hak-hak-dan-kewajiban-kepala-negara-perspektif-politik-islam-515031.html [2 Maret 2015].