Ide Perangkat IoT Solusi Kebakaran Hutan


Kebakaran hutan yang teradi di Indonesia akhir-akhir ini sangat memprihatinkan. Sudah 20 tahun berlalu bencana ini tidak pernah terselesaikan, dikarenakan faktor cuaca, dan lebih seringnya para petani dan perusahaan yang ingin membuka hutan dan lahan gambut demi bubur kakyu, minyak sawit , karet, atau peternakan skala kecil.

Antara Juni hingga Oktober 2015, lebih dari 100.000 kebakaran melahap jutaan hektare hutan di Indonesia. Korban meninggal dunia, baik manusia maupun hewan, telah berjatuhan. Dampak ekonominya pun diperkirakan mencapai lebih dari US$15 miliar atau setara Rp196 triliun. (Dikutif dari BBC)

Gambar Kebakaran hutan dan lahan terjadi Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Oktober 2015 lalu. Sumber BBC

Dari gambar diatas salah satu dari sekian hutan yang terbakar, tempatnya di kabupaten ogan ilir tempat kelahiran saya. Sedih memang dampak yang diakibatkan dari kabut asap yang menimpa masyarakat sekitar yaitu terganggunya saluran pernapasan termasuk keluarga saya disana.

Saat ini pemantauan kebakaran hutan hanya terpusat pada satelit dan aduan masyarakat setempat. Dengan bantuan satelit yang mengelilingi bumi sebanyak 2 kali sehari sudah bisa memantau kabakaran hutan. Tetapi beda caeritanya ketika titik api semakin banyak dan dampaknya kabut asap mulai menebal, kekurangannya disini satelit tidak bisa menembus tebalnya kabut asap untuk meninjau dititik mana api itu muncul.

Satelit Terra dan Aqua hanya bisa memantau sejumlah provinsi saja yakni Sumatera Selatan (Sumsel), Bangka Belitung, Lampung. “Untuk hari ini kita memantau 201 titik panas (hospot). Titik api terbanyak masih berada di Provinsi Sumsel dengan jumlah 170 titik. Sisanya menyebar di provinsi lain,” kata staf analisa Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru Yudistira, Rabu (30/9/2015).  (Dikutif dari Sindonews).

Pertanyaannya : 

Kenapa titik-titik api ini jumlahnya terus bertambah banyak ? (Tentunya banyak jawabannya dan bisa dilihat dari segi mana anda melihatnya (iklim/perusahaan/pemerintah/masyarakat/pembukaan lahan baru dengan cara dibakar).

Kondisi yang seperti itu sangat berbahaya, bisa saja titik-titik api tersebut berpindah ke pemukiman masyarakat. Sudah seharunya pemerintah memiliki sendiri alat pendeteksi kebakaran hutan. Sudah 20 tahun kejadian ini terus berulang dan saya rasa jika diteliti titik-titik yang sering terjadinya kabakaran bisa dihafal tempatnya.

Konsep Internet of Things dalam pengembangan menara kebakaran hutan

Dari keresahan yang saya rasakan, terpikir untuk membantu meluangkan ide dalam menangani permasalahan kebakaran hutan di Indonesia. Dalam mendukung suksesnya ide ini perlu adanya dukungan dari pemerintah dan startup indonesia yang berkecimpung di dunia IoT (Internet of Things).

Dengan berkembangnya infrastruktur internet saat ini, kita mulai memasuki era baru dimana tidak hanya komputer dan smartphone saja yang akan terhubung dengan internet. Benda apapun yang ada di sekitar kita berpotensi untuk terhubung internet. Benda-benda yang sebelumnya kita kenal hanya diam, akan mulai bergerak, bersuara dan berinteraksi. Konsep ini dikenal dengan istilah Internet of Things”.

Dengan konsep IoT banyak sekali ide-ide yang dapat diterapkan dan membuat sesuatu yang baru untuk keperluan bisnis, maupun keperluan lain, salah satunya ide yang saya konsepkan ini dengan konsep IoT dapat memberikan solusi bagi Indonesia yang sering tertimpa musibah kebakaran hutan.

Dari permasalahan yang ada dan dengan didukungnya teknologi yang ada, titik-titik kebakaran hutan dapat minimalisir jumlahnya dikarenakan perngkat yang dibuat. Dengan adanya perangkat ini diharapkan dapat menjadi peringatan dini adanya perubahan panas karena iklim atau kebakaran hutan secara sengaja, sehingga para petugas pemadam kebakaran dan polisi hutan dapat dengan mudah dan cepat dalam menanggulangi kebakaran hutan ini.

Menara Pendeteksi Kebakaran

Menara Pendeteksi Kebakaran

Kegunaannya

  1. Mencatat perubahan suhu melalui kamera dan sensor
  2. Mendeteksi titik panas (hospot) melalui kamera pengamas dimenara dengan menggunakan sensor panas (Thermal Camera)
  3. Dilengkapi sensor gas yang bisa mendeteksi berbagai jenis gas, suhu, kelembaban, tekanan udara (atmosfir), dan bisa dipergunakan untuk mendeteksi polusi, emisi gas dari peternakan, pabrik kimia, industri, dan kebakaran hutan. (Detail Sensor Gas)

Perangkat yang dibutuhkan

  1. Kamera (Thermal Camera)
  2. Sensor Gas
  3. Papan micro-controller
  4. GPS
  5. Panel Sel Surya (dibutuhkan jika jauh dari lokasi sumber listrik)
  6. Pemancar Sinyal (disesuaikan kebutuhan jika dilokasi masih terjangkau sinyal kartu CDMA/GSM bisa digunakan, atau bisa menggunakan koneksi wifi dengan catatan menerima sumber WiMax karena jaungkauan, atau bisa menggunakan komunikasi satelit)
  7. Menara Pengawas

Penempatan perangkat

  1. Perangkat ditempatkan diarea yang sering terjadi kebakaran hutan dan pastikan disekeliling menara jarak minimal 10 M terlindungi dari hal-hal yang dapat merusak atau mengakibatkan merambat cepatnya api jika terjadi bencana disekitar menara seperti pembersihan dari pohon-pohon yang kering.
  2. Pastikan menara lebih tinggi dibandungkan pepohonan disekitar dan diatas menara jangkauannya harus bisa lebih luas melihat disekitarnya, nantinya digunakan untuk mendeteksi titik-titik panas menggunakan kamera.
  3. Untuk tingginya menara harus dilakukan penelitian terlebih dahulu disekitar area yang sering terjadi kebakaran.
  4. Perlu diperhartikan kualitas kemera dan jaungkauan sangat dibutuhkan.
  5. Jika hutan tersebut sangat luas dan diluar jangkauan menara bisa dipasang lebih dari satu menara untuk memudahkan pengontrolan, dibuat lebih dari 1 bisa dihitung jaak pandang antara menara yang pertama

Cara kerjanya

Menara ini akan melakukan pengawasan secara real time dan dapat diakses melalui koneksi (lihat poin 6 perangkat yang dibutuhkan) yang ada sehingga para polisi hutan dan pemadam kebakaran bisa sewaktu-waktu langsung ke tempat tujuan dari lokasi yang diberikan oleh menara menggunakan GPS jika sewaktu-waktu terjadi bencana kebakaran.

Ilustrasi : simulasi terjadi kebakaran hutan (Polisi dan Pemadam kebakaran terjun kelapangan ketika menerima laporan dari menara)

Ilustrasi : simulasi terjadi kebakaran hutan (Polisi dan Pemadam kebakaran bekerja sama terjun kelapangan ketika menerima laporan dari menara pengawas)

Pergerakan kamera kebawah keatas kemudian ke kanan dengan mengukur berapa jauh jaungkauan kamera dan tinggi menara tersebut sehingga didapatkan berapa derajatnya perpindahan posisi kamera. Selain kamera ada sensor gas yang mampu mendeteksi asap (lihat poin 2 kegunaannya) sehingga dapat menunjang kinerja menara pengawas ini.

Jika terdeteksi suhu yang berlebih atau api akbiat kebakaran atau juga asap maka perangkat ini akan mengirimkan data secara realtime ke pusat pengawasan bisa di kepolisi kehutanan yang mengawasi atau yang bertanggung jawab dalam kehuatanan supaya cepat tanggap dalam bencana bisa lebih cepat.

Bagi Developer

  1. Ini merupakan peluang bisa bekerja sama dengan pemerintah dalam mengatasi bencana di Indonesia.
  2. Konsep ini bisa diterapkan diberbagai medan bukan saja dihutan (ayo berfikit kreatif :D)
  3. Bisa jadi kontrak kerja dalam pengembangan dan pemeliharaan perngakat yang telah dibuat
  4. Tentunya menghasilkan monetize bagi pengembang, untuk terus berjuang dan menghasilkan inovasi-inovasi baru

Semoga ide yang saya buat ini dapat menjadi inspirasi bagi developer Indonesia sehingga dapat diterapkan dan menjadi solusi bagi kita semua. Terimakasih

Referensi

  1. BBC – Dapatkah kebakaran hutan di Indonesia diakhiri?
  2. Sindonews – Asap Pekat, Satelit BMKG Tidak Bisa Tembus Titik Kebakaran di Riau
  3. Codepolitan Magazine #19 – Invasi Internet of Things di Tanah Air